Inovasi Alat Peraga Pelatihan Nefrolitotomi Perkutan Berbasis Material Sintetik
Penyakit batu ginjal merupakan salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia dengan prevalensi mencapai 1–5% dari populasi. Indonesia termasuk dalam wilayah kidney stone belt atau “sabuk batu” dengan angka kejadian lebih tinggi dibandingkan negara lain. Salah satu metode penanganan yang terbukti efektif adalah operasi nefrolitotomi perkutan (percutaneous nephrolithotomy atau PCNL), yakni prosedur bedah untuk menghancurkan batu ginjal melalui akses kecil pada kulit. Teknik ini pertama kali dilakukan di Indonesia pada tahun 1984, namun hingga kini jumlah dokter yang benar-benar mahir dalam prosedur tersebut masih sangat terbatas. Pelatihan yang tersedia sebagian besar dilakukan langsung pada pasien, yang tentu mengandung risiko tinggi sekaligus membatasi kesempatan belajar. Padahal, keberhasilan prosedur PCNL sangat ditentukan oleh kualitas pelatihan yang dijalani oleh dokter urologi, termasuk ketersediaan alat peraga yang mampu memberikan pengalaman latihan realistis dan aman.
Berangkat dari tantangan tersebut, lahirlah inovasi berupa alat peraga pelatihan nefrolitotomi perkutan berbasis material sintetik silikon RTV 52 dan gelatin padat dengan dukungan teknologi pencetakan tiga dimensi. Alat ini dirancang untuk menyediakan sarana pelatihan yang realistis sehingga dokter dapat berlatih secara intensif tanpa risiko terhadap pasien. Inovasi ini menghadirkan model ginjal sintetis dengan anatomi yang akurat, ditempatkan di dalam media gelatin padat yang menyerupai jaringan tubuh, serta dilengkapi saluran kemih buatan untuk simulasi prosedur. Kombinasi bahan silikon RTV 52 dan gelatin padat dipilih karena keduanya mampu menghadirkan sensasi yang menyerupai konsistensi ginjal dan jaringan tubuh manusia.

Gambar 1: Tampak Alat Peraga Pelatihan Nefrolitotomi Perkutan
Tujuan utama dari inovasi ini adalah memberikan pengalaman belajar yang mendekati kondisi nyata operasi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasien sebagai media latihan. Dengan alat ini, dokter dapat meningkatkan keterampilannya dalam prosedur PCNL secara aman dan terukur. Lebih jauh lagi, alat ini dapat diproduksi secara berkelanjutan sehingga mendukung program pendidikan spesialis urologi di Indonesia secara luas.
Gambar 2: Tampak Ginjal Sintetis yang terbuat dari Silikon RTV 52
Metode pengembangan alat ini dilakukan melalui beberapa tahapan penting. Pertama, rancangan anatomi ginjal dibuat berdasarkan hasil CT-scan pasien dewasa, lalu diproses menjadi cetakan tiga dimensi dengan teknologi stereolitografi. Ginjal sintetis kemudian dicetak menggunakan silikon RTV 52, lengkap dengan struktur internal berupa kaliks dan pelvis ginjal. Setelah itu, ginjal sintetis ditempatkan pada kedalaman tujuh sentimeter di dalam gelatin padat berbentuk kubus dengan dimensi 15 x 15 x 15 cm. Media gelatin ini berfungsi sebagai simulasi jaringan tubuh manusia, memberikan sensasi kekenyalan yang mirip dengan kondisi asli. Untuk melengkapi simulasi, ditambahkan selang kateter berdiameter enam milimeter dengan panjang 15 cm sebagai saluran kemih, serta kaliks ginjal sintetis dari lilin parafin untuk menciptakan rongga internal yang akurat. Melalui desain ini, dokter dapat berlatih melakukan penetrasi jaringan, mengakses saluran ginjal, hingga mengoperasikan instrumen bedah dalam kondisi yang menyerupai operasi nyata.

Gambar 3: Tampak dari cetakan tiga dimensi yang digunakan untuk membentuk Ginjal sintetis
Manfaat yang dihadirkan inovasi ini sangat luas. Bagi dokter, alat peraga ini memberikan kesempatan latihan yang aman, realistis, dan berulang tanpa risiko terhadap pasien. Bagi institusi pendidikan kedokteran, inovasi ini menjadi fasilitas modern yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat kurikulum pelatihan spesialis urologi. Pasien juga akan merasakan dampak positif karena dokter yang menangani sudah lebih terlatih dan percaya diri sebelum melakukan prosedur nyata. Lebih jauh lagi, inovasi ini memperkuat kemandirian Indonesia dalam pengembangan teknologi medis, sehingga tidak lagi terlalu bergantung pada model atau perangkat impor.
Prof. dr. Ponco Birowo, SpU(K), Ph.D., selaku inventor utama, menekankan bahwa alat ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan. “Selama ini pelatihan nefrolitotomi perkutan di Indonesia terbatas pada pasien. Dengan adanya alat peraga ini, dokter bisa berlatih lebih intensif dan aman. Kombinasi silikon RTV 52 dan gelatin padat memberi sensasi yang sangat mirip dengan kondisi sebenarnya, sehingga pengalaman belajar jauh lebih efektif,” jelasnya.
Pandangan ini turut diperkuat oleh Chairul Hudaya, Ph.D., Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, yang menilai inovasi ini sebagai kontribusi nyata akademisi terhadap kebutuhan bangsa sekaligus sejalan dengan arahan pimpinan universitas. “Kami mendorong hadirnya inovasi yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga langsung berdampak pada peningkatan layanan kesehatan. Hal ini juga sejalan dengan arahan Rektor UI agar setiap hasil riset mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Alat peraga ini akan membantu mempercepat lahirnya tenaga medis yang lebih terampil dan siap pakai di lapangan,” ujarnya.
Dengan demikian, inovasi alat peraga nefrolitotomi perkutan berbasis material sintetik ini dapat dipandang sebagai terobosan penting bagi dunia medis di Indonesia. Kehadirannya membuka peluang baru dalam pelatihan dokter urologi, memperkuat standar kompetensi, serta mendukung terwujudnya layanan kesehatan yang lebih baik dan berdaya saing global. Inovasi ini menegaskan bahwa dengan kolaborasi antara peneliti, praktisi, dan lembaga pendidikan, Indonesia mampu menghadirkan teknologi kesehatan yang tidak hanya menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga berpotensi diadopsi di tingkat internasional.
Artikel Sebelumnya
Serbuk Propolis: Inovasi Baru dari Teknologi Pengeringan Sem...Artikel Selanjutnya
DIRBT UI Perkuat Kapasitas Staf lewat Sertifikasi Konsultan...